Jumat, 23 Maret 2012

Desa Dawuan


DESA DAWUAN

                Desa Dawuan merupakan salah satu termasuk dalam Kecamatan Tengah Tani hasil pemekaran dari kecamatan Cirebon Barat. Desa ini oleh masyarakat setempat diyakini didirikan oleh Ki Gede Dawuan. Sayang kiprahnya pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati tidak begitu terekam dalam ingatan masyarakat setempat, hanya diketahui heberadaan pesareannya atau kuburan di Nur Giri Cipta Rengga atau Astana Gunung Sembung yang bredampingan dengan Ki Gede Kemlaka dan Ki Gede Pilang yang juga penguasa desa tetangga dari Desa Dawuan. Hal tersebut bukan berati Mengecilkan peran para tokon yang masih hidup di desa tersebut pada masa lampau.
Salah satu yang begitu sangat dikenang kiprahnya adalah Ki Buyut Muji, Seorang ulama dan pejuang. Beliau juga dikenal sebagai ahli pengairan (water resorch). Seperti yang dituturkan oleh keluarga Kyai Haji Irssad Al Amin (alm) pengasuh pondok pesantren Sambi LawangRaden Syarif Rihani Kusumawijaya (alm) menyebut bahwa nama Ki Buyut Muji sesungguhnya muncul karena setiap saat beliau hanya berwirid dan berdzikir memuji Asma-Nya. Beliau sesungguhnya bernama Asli Pangeran Abdul Hamid, putra dari pangeran Satarengga. Jika jalur keturunan itu ditarik keatas maka sampailah pada pangeran Cakrabuana atau Embah Kuwu Cirebon, sedangkan menurut Ismail bin Raden Dasuki(sesepuh dawuan), Ki Buyut Muji adalah putra dari ki Gede gasik, sedangkan pangeran Satarengga adalah mertua beliau (Ki Buyut Muji). Versi lain siapa Ki Buyut Muji sendiri muncul sebagai nama samaran karena beliau melakukan gerakan bahwa tanah memberontak terhadap Belanda. Disebut juga bahwa ia adalah pendukung setia dari Pangeran Suryanegara (mertuanya).
Dikisahkan dalam tradisi lisan setempat, pada saat belanda membangun dam/bendungan(Dawuan, Cirebon) di daerah Situ Patok. Namun entah karena apa pekerjaan itu tak kunjung rampung, berkali-kali dam itu rampung, namun tiba-tiba dam tersebut bobol. Bahkan yang lebih mengerikan seringkali menelan korban jiwa dari para pekerjanya. Hal itu membuat belanda magsyul.
Merekapun lantas mengkonsultasikan kejadian itu kepada Sultan Cirebon. Sang Sultan memberikan kesepakatan untuk membantu pembangunan proyek dam/bendungan tersebut Hal dimaksudkan agar tidak ada lagi korban jiwa dari para pekerja yang juga jelas-jelas rakyatnya sendiri. Belandapun tidak dapat menolak kesepakatan tersebut, memang hal itu yang mereka harapkan. Harapan agar pundi-pundi kekayaan kerajaan belanda semakin menggunung.
Selepas itu Sultan memanggil Ki Buyut Muji, titah beliau kepada Ki Buyut Muji “ Ki Buyut Muji, aku perintahlan agar engkau menyelidiki penyebab macetnya pembangunan dam/bendungan di Situ Patok agar tidak semakin banyak nyawa rakyat yang melayang ”. “Sendika Gusti hamba akan secepatnya menuntaskan masalah tersebut dan segera member laporan” jawat Ki Buyut sembari menghaturkan sembah. Setelah itu lekaslah ia berangkat menuju Situ Patok.
Setibanya disana, dengan teliti dari sudut ke sudut dipandangi tiap jengkal dam yang belum rampung tersebut. Tentu saja saja mata yang beliau pakai kali ini bukanlah mata lahir, melainkan mata batin, sebab sebagai ahli pengairan dari kejauhan saja sebelum sampai di tepi dam, telah tampak jika struktur rancangan bangunan dam itu sudah cukup baik. Di tengah dam yang airnya belum penuh itu terdapat sebuah pulau. Dalam pandangan batinnya terlihat dengan sangat nyata tampak seekor ular naga yang amat besar.
Berjalanlah Ki Buyut Muji kearah pulau di tengah-tengah dam/bendungan. Sesampainya disana naga sudah menanti dengan mulut menganga hingga taringnya tampak berkilau oleh sorot matahari.
“Hai manusia, siapa engkau berani-beraninya datang kemari ? apa kau tak tahu betapa banyak bangsamu yang ku santap ?” seru ular naga itu.
“Tak kusangka, engkau ular yang sangat pintar, dapat berbicara dalam bahasa manusia.” Kata Ki Buyut Muji. Ketahuilah lanjutnya “aku adalah Ki Buyut Muji utusan dari Kanjeng Sultan Cirebon untuk menyelidiki kejanggalan yang ada dalam pembuatan dam/bendungan disini. Nyatanya tanpa kutanya kau sudah menjawab sendiri jika kaulah biang onar itu. Sesungguhnya siapa kamu dan apa yang terjadi alasanmu mengganggu pekerjaan ini ?” Tanya Ki Buyut Muji.
“Namaku Sang Nagaraja penguasa tempat ini, Pulau Antaboga. Bangsa bule itu seenaknya menggangu tempat tinggal sesame mahluk yang widi.” Katanya sembari terus mendesis. Ki Buyut Muji sekarang paham. “ Tapi bukan berate kau boleh memangsa manusia lainnya yang tidak tahu menahu duduk permasalahannya, mereka hanya kuli, tidak lebih, jadi lekaslah hentikan perbuatanmu itu.”  Jelas Ki Buyut Muji.
“Kalau aku teruskan ?” Tanya sang nagaraja dengan matanya merah.
“Kau harus bersiap melawanku”. Pelan Ki Buyut menjawab.
Tanpa berkata-kata lagi Sang Nagaraja mematuk kearah kepala Ki Buyut Muji , sebuah tanda awal pertarungan. Pertarungan itu begitu sengit keduanya pilih tanding, namun kebenaran selalu menang. Begitulah yanag kemudian terjadi, akhirnya Ki Buyut Muji dapat menundukannya.
“Aku mengaku takluk,” Kata Sang Nagaraja kelelahan Nampak dalam desahan nafasnya, “aku tidak akan berani lagi menggangu pekerjaan ini sedikitpun. Namun akupun mempunyai satu permintaan, setiap tahun ditanggap wayang kulit dan sebagai dalang adalah engkau dan terus-menerus kepada anak keturunanmu.”
“Akan ku laksanakan, bagiku dan Kesultanan Cirebon nyawa serta keselamatan rakyat adalah yang paling utama.” Kata Ki Buyut.
Maka Ki Buyut memegang Sang Nagaraja, agar sudi ikut ke Keraton Cirebon, Sebagai saksi dan barabg bukti atas keberhasilan tugas yang ia emban. Dengan kesaktian Nagaraja yang begitu besar dan panjang, dalam genggamannya tiba-tiba saja menyusut hingga sebesar cacing tanah. Oleh Ki Buyut Muji, Nagaraja ditaruh ke dalam wadah tembakau kesayangannya.
Tak berapa lama Ki Buyut Muji hadir di Bangsal Prabayaksa Keraton Cirebon dihadapan Sang Sultan Cirebon.
“Ki Buyut, lekas engkau ceritakan apa yang terjadi dan bagaimana pemecahan masalahnya.” Kata Sang Sultan lembut perlahan.
“Gusti sesembahan hamba,” katanya perlahan sambil keduatanganya menjura dengan dahi condong ke bawah. “ Akhirnya hamba mengetahui sebab musabahnya, hal itu terjadi karena ada sebangsa ular siluman bernama Nagaraja penguasa Pulau Antaboga, pulau di tengah dam itu. Mereka (bangsa belanda)  tidak berizin kepada Sang Nagaraja sebagai penguasa gaib disana. Hamba membujuknya agar mau menghentikan segala tindakanya, namun ia melawan. Alhamdulillah atas seizin-Nya ia sanggup hamba taklukan Gusti, bahkan ia hamba bawa serta kemari.”
“Jika begitu, aku ingin melihatnya,” Kata Sang Sultan dengan penuh minat. Ki Buyut pun menyodorkan wadah tembakau dan dibukanya perlahan-lahan.
Sang Sulta melihat ada seekor ular yang tak jauh beda dengan cacing. Sambil mengeleng-gelengkan kepala ia berkata “Sesungguhnya heran, ular sebesar ini sanggup menghentikan pekerjaa Belanda yang dilakukan oleh beratus-ratus orang.”
Mendengar hal tersebut Ki Buyut Muji tersenyum simpul dan berkata  “Gusti, ukuran sesungguhnya tidak sekecil ini, silahkan paduka lihat sejenak.” Ia pun menurunkan Nagaraja ke lantai Keraton, dengan sekejap mata Nagaraja kembali keukuran semula konon saking besarnya kepala Nagaraja memenuhi Prabayaksa dan Sri Manganti. Sedangkan ujung ekornya ada di alun-alun Sangkala Buana (alun-alun Keraton Kasepuhan).
Sang Sultan terperanjat, “ Ki Buyut lekas kau masukan lagi ketempatnya tadi.” Katanya gusar tanpa bisa menyembunyikan rasa keheranannya. Ki Buyut pun lekas meraih kepala Nagaraja, maka ia pun kembali mengecil, lekas dimasukan kembali kedalam wadah tenbakau.
“Lantas dengan takluknya dia olehmu, itu akan serta merta menghentikan aksi pembunuhan ?” Tanya Sang Sultan, dengan nada yang sudah tenang kembali.
“Pendek kata yang mulia,” Katanya. “Lantas ia melanjutkan, namun ia pun dengan persyaratan setiap tahun di dam itu dipertunjukan wayang kulit dan aku yang menjadi dalangnya, begitu seterusnya hingga anak cucu keturunanku kelak.”

Maka Sang Sultan pun meluluskan permintaan Naga Raja penguasa Pula Antaboga demi ketentraman dan keselamatan rakyat Cerbon. Atas jasanya dalam menghentikan perbuatan Nagaraja, Ki Buyut Muji diberi julukan Ki Buyut Dawuan dan mendapat tanah perdikan (tanah merdeka, tanah yang tidak wajib kena pajak dan upeti kepada Kesultanan), jika pun memberi upeti itu atas dasar kerelaan dibolehkan tidak ada keharusan yang terdiri dari :
1.          Rancang, Luasnya adalah sepanjang sisi selatan jalan raya Cirebon Bandung dari Desa Dawuan hingga Desa Kedung Jaya. Namun sekarang hanya satu blok, nama ini tersemat pada salah satu blok di Desa Dawuan.
2.          Rancang Kawat, Sekarang termasuk ke dalam Desa kemalaka, dan menjadi nama salah satu desa tersebut.
3.          Sina Rancang, Letaknya di sisi Situ Patok sekarang, dan menjadi nama Desa Sina Rancang.

Ki Buyut Muji wafat dan dimakamkan di blok Rancang, sedangkan peninggalannya berupa arit gagangnya berhias kepala Cemental Sekar Pandan atau Curis salah satu dari sembilan tokoh Punakawan dalam Pewayangan Cirebon, dan kain sarungnya masih tersimpan dengan baik oleh anak keturunannya. Pertunjukan wayang kulit di Desa Situ Patok sebagai syarat atau permintaan Sang Nagaraja diketahui terakhir pada tahun 1990- an dengan dalang dari blok Rancang yaitu alm. Ki Dalang Gluwer.

Pemerintah Desa Dawuan sendiri sudah berlangsung sejak lama.

Nama-nama Kuwu Desa Dawuan yang diketahui adalah :
1.          Salamun                          : 1970-1985
2.          Aan Anasi                       : 1985-1993
3.          Nasikin Abdulah             : 1994-2003
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar